Jadi diri sendiri

Pernah dengar lagunya Adam Levine yang judulnya “Locked Away” kira-kira begini bunyinya.

If I got locked away

And we lost it all today

Tell me honestly, would you still love me the same?

If I showed you my flaws

If I couldn’t be strong

Tell me honestly, would you still love me the same?

Right about now…

If a judge for life me, would you stay by my side?

Or is you gonna say goodbye?

Can you tell me right now?

If I couldn’t buy you the fancy things in life

Shawty, would it be alright?

Come on show me that you are down

Now tell me would you really ride for me?

Baby tell me would you die for me?

Would you spend your whole life with me?

Would you be there to always hold me down?

Tell me would you really cry for me?

Baby don’t lie to me

If I didn’t have anything

I wanna know would you stick around?

 

Lagu ini berkali-kali saya putar dan dengarkan akhir-akhir ini. Lagu ini menyentuh banget apa lagi yang liriknya “If I showed you my flaws If I couldn’t be strong Tell me honestly, would you still love me the same?”

Dulu, dulu lho ya…. Saya kepikiran banget apa omongan orang terhadap saya. Bisa jadi omongan tersebut membentuk diri dan pribadi saya yang bukan sebenarnya. Contohnya saya yang memang suka nulis dan mencoba menggunakan Bahasa Inggris, dibilang “aduh gimana tuh, grammar kamu ngaco!!” dari komentar pedas itu membuat saya urung menulis lagi, “ah capek ah, dari pada dikomentari orang kata saya”

Atau saya yang orangnya cerewet dan blak-blakan dibilang “jadi prempuan itu harus kalem” yang dari kalimat tersebut membuat saya tidak dapat bereksplorasi mengenal diri saya yang sesungguhnya.

Bukan hanya perkara itu saja sih, tapi perkara penampilan juga. Saya yang sejujurnya masih On-Off menggunakan jilbab karena masih belajar selalu takut akan omongan orang bila suatu saat saya tidak memakai jilbab keluar rumah atau pakai jilbab yang tidak rapih. “Itu leher kamu keliatan” aduh “jilbab kan harus menutupi dada.” Begitulah hardikan orang terhadap saya yang tidak sempurna ini. Sampai-sampai saya berfikir, perkara jilbab kan perkara personal Tuhan dengan umatnya, kok perkara personal ini mereka bawa-bawa. Dari situ malahan, saya terkesan lebih takut apa kata omongan orang dari pada penilaian Tuhan. (Dari titik balik inilah saya belajar, setidaknya saya harus lebih taukut sama Tuhan *kata saya dalam hati)

Perkara jilbab, sebenarnya orang yang paling bertanggung jawab terhadap saya yakni Ayah saya pun menyerahkan kepada saya. “yang penting adek nyaman” begitu katanya. Papa bilang yang penting berpakaian sopan. Saya kemudian berfikir, “bokab gue aja terserah gue, kok lu pada yang bukan siapa-siapa pada menghakimi gue” kasarnya sih begitu.

Saya ini masih belajar lho, dan manusia itu kan tidak stabil emosi dan imannya terlebih saya, manusia yang penuh dengan dosa. Dari titik balik itu saya belajar bahwa yang penting saya nyaman dan bahagia. Ya, nyaman dan bahagia menjadi diri saya. Dengan Valen yang cerewet tapi perhatian, dengan Valen yang suka nulis walau English pas-pasan, dengan Valen yang kadar imannya jauh dari sempurna yang jilbanya masih belajar kadang buka kadang tidak. Intinya saya bahagia karena saat ini saya bisa menjadi diri saya sendiri dengan kelebihan dan kekurangan yang saya miliki.

Waktu lalu, ada seorang kawan yang bertanya tentang semua perubahan dalam diri saya. “Lu ga takut len keilangan temen kalau liat elo cerewet, judes gitu?” or “Lu ga takut len keilangan kawan ngeliat lu nulis inggris kacau gitu” or “lu ga takut len keilangan pacar karena jilbab lo yang ga konsisten gitu?” pertanyaan tersebut saya jawab dengan kata “TIDAK” saya tidak takut menjadi diri saya, diri saya yang tidak sempurna dan diri saya yang masih belajar, saya hanya takut kehilangan “DIRI SAYA” diri saya yang sakit hatinya karena kebanyakan berpura-pura.

Selain itu, dari saya belajar menjadi diri saya yang menerima saya apa adanya, saya bisa menilai mana orang yang tulus dan mana orang yang tidak. Mana orang yang tulus berteman dengan saya dengan segala kekurangan saya, dan mana orang yang tiba-tiba menjauh pergi meninggalkan saya yang masih belajar untuk mencari jati diri yang sebenarnya. Kemarin saya menonton salah satu siaran TV di Amerika, ada orang yang bilang bahwa saat kamu menjadi diri kamu sendiri kamu akan tau siapa kamu yang sesungguhnya. Kemudian saya merenung, saat ini, dengan semua perubahan yang ada dalam diri saya, saya tau mana teman yang setia dan mana cinta yang sesungguhnya, karena tak perlu menjadi orang lainkan untuk mengharap kasihnya 🙂

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s